28 January 2011

Grebeg Saparan, Tradisi budaya yang terus dijaga

Grebeg Saparan....Sebuah Tradisi Budaya yang tak terhentikan oleh kemajuan moderenisasi.di zaman yang semua serba teknologi dan kebudayaan lokal yang terus tergerus oleh kebudayaan asing. Di desa Ngaditirto, Kec. Selopampang, kab. Temanggung...Kebudayaan menjaga tradisi guna mempersatukan kebersamaan warga serta menjunjung warisan budaya nenek moyang mereka masih terus dipertahankan kebudayaan ini...eksistensinya pun masih besar dan meriah [...]



Bertempat di dusun lereng sumbing sebelah timur ini mereka mengadakan acara tersebut, acara tahunan diakhir bulan sapar ( safar dalam islam ). Safar (sapar) adalah bulan ke-2 dalam bulam Kamariah yang berarti “kosong” atau “kuning”. Pada masa lalu, para pria Arab pergi ke luar rumah mereka untuk berperang, berdagang dan bertualang setiap bulan Safar tiba. Rumah menjadi kosong.  Momen inilah yang dijadikan warga desa untuk bersih desa dan mengadakan syukuran setelah bulan sapar dan menyabut bulan Rabiulawal (Rabi’al-Awwal ). Saya pun baru kali ini melihatacara tersebut. Sepintas seperti grepeg di Jogja, cuman bedanya ini grebeknya kecil dan dalam skup kecil, karena yang menikmati dan berebut tumpeng kebanyakan dari warga penduduk tersebut. Diawalai dengan arak arakan tumpeng hasil bumi yang di arak ke sekeliling kampung, diikuti oleh semua warga dan diiringi oleh alunan kesenian khas kampung tersebut yaitu kuda lumping, jatilhan dan Topeng ireng. stelah diarak tumpeng tumpeng tersebut di bawa di sebuah tanah lapang untuk didoain kemudian setelah itu maka warga pun mulai berebut. cukup ramai suasana waktu itu..saya pun cukup terkejut melihat acara tersebut, maklum baru pertama melihat acara tersebut, kan taunya acara seperti ini adanya di Yogyakarta..hhmmm...

Acarapun ditutup dengan kesenian Kuda lumping Bhekso Turonggoo yang telah menyabet juara pertama dalam festival kesenian Budaya Temanggung tahun 2010 lalu. banyak juga kesenian - kesian lainnya yang juga memeriahkan acara terwsebut, acara yang dilakukan 2 hari 2 malem ini sangat meriah, selain kuda lumping ada juga kesenian Jathilan, Topeng ireng, Sorengan, Legger, dan tari prajuritan...wah sungguh luar biasa acara tersebut. Ditengah - tengah era yang muali menganggungkan teknologi ini masih ada juga sebuah tradisi yang amsih dijaga dan bertujuan untuk menyatukan kebersamaan warga dalam hidup bergotong royong dan bersosial...hhhmmm acara yang cukup meriah.

Mungkin kalau acara ini dikeleola secara maksimal mungkin bisa menjadikan agenda pariwisata Idonesia dalam menarik wisatawan asing untuk melihatnya...kembali lai kepada dinas pariwisata Temanggung unuk terus mngasah dan mengelola budaya - buada yang ada di Temanggung guna melestarikan kebudayaan dan juga memperoleh devisa daerah dari segi Pariwisata Budaya dan kearifan Lokal.hhhmmm..semoga ini bisa buat renungan..semoga...acara saparan ditahun berikutnya bisa ebih meriah dan dapat dikelola lebih baik lagi....

2 comments:

  1. Saya sudah baca artikel anda, trima kasih karena sudah mengangkat topik ini menjadi sebuah pemabahasan dalam blog anda. apa yang anda tulis sudah benar, hanya perlu beberapa tambahan lagi untuk melengkapi info di atas. boleh juga masukkan mitos-mitos mengenai tradisi tersebut dan juga pranatanya/kajian folklorenya (saran saya). matur suwun...

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Alice atas komentarnya dan masukannya...

      Delete