18 August 2015

Terkena penyakit tifus itu, gaenak...

Haaaii Gaesss.... Saya baru bisa nge post lagi setelah keadaan saya mulai membaik. kemarin saya terkena penyakit gejala tipes yang keduakalinya ditahun 2015 ini, 9 - 17 agustus 2015, cukup lama saya terserang penyakit ini, 9 hari untuk tidak masuk kerja dan 4 hari untuk di rawat inap dan diinfus. huuuffff... sumpah gaenak banget! i feel so weak, rawr....!!!

Okey.. karena saya sudah menjadi korban, saya mau berbagi cerita biar kalian nggak terkena penyakit seperti saya ini..Salah besar jika menganggap enteng penyakit ini. Sebab jika kambuh lagi, akan lebih membahayakan !

Penyakit yang ditandai dengan demam tinggi ini kerap menyerang anak-anak. Termasuk balita. Sayangnya, banyak orang tua menganggap remeh tifus. Banyak juga yang masih beranggapan, kalau sudah pernah kena tifus, tak bakalan kena lagi. Padahal, salah besar. Justru lebih bahaya dan bisa menyebabkan kematian.

Di Indonesia, diperkirakan antara 800 – 100.000 orang terkena tifus atau demam tifoid sepanjang tahun. Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan konon anak perempuan lebih sering terserang. Yang jelas, meski tifus bisa menyerang anak di atas umur 1 tahun, “korban” paling banyak adalah anak usia 5 tahun. “Tapi belakangan ini, serangan terhadap anak di bawah umur 5 tahun, meningkat jadi 15 persen,”

MASUK LEWAT MULUT
Demam tifoid, adalah infeksi akut yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Tidak seperti virus yang dapat beterbangan di udara, bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh, makanan, dan minuman yang tidak higienis. “Dia masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran cerna.”

Proses bekerjanya bakteri ini ke dalam tubuh manusia lumayan cepat. Yaitu 24-72 jam setelah masuk, meski belum menimbulkan gejala, tetapi bakteri telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, dan ginjal. “Rentang waktu antara masuknya kuman sampai dengan timbulnya gejala penyakit, sekitar 7 hari.”

Nah, gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa itulah kuman akan menyebar dan berkembang biak. Organ tubuh lalu merangsang sel darah putih mengeluarkan zat interleukin. Zat inilah yang akan merangsang terjadinya gejala demam. Kuman yang masuk ke hati akan masuk kembali dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya.

Namun tidak seluruh bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan demam tifoid. “Saat kuman masuk, tubuh berupaya memberantas kuman dengan berbagai cara. Misalnya, asam lambung berupaya menghancurkan bakteri, sementara gerakan lambung berupaya mengeluarkan bakteri. Jika berhasil, orang tersebut akan terhindar dari demam tifoid.”

KENALI GEJALA
Demam lebih dari seminggu, Siang hari biasanya terlihat segar namun malamnya demam tinggi. Suhu tubuh naik-turun. Bakteri Salmonella typhi juga menyerang saluran cerna karena itu saluran cerna terganggu. Tapi pada sejumlah kasus, penderita malah sulit buang air besar. Mual Berat, Muntah, Lidah kotor, Lemas, pusing, dan sakit perut dan wajah pucat.


PENGOBATAN HARUS TUNTAS

Bila demam tifoid masih terbilang ringan, istilahnya gejala tifus atau paratifus, dokter akan menyarankan banyak istirahat, banyak minum, dan obat antibiotik yang diberikan harus dihabiskan.

Untuk tifus yang sudah berat, penderita diharuskan menjalani perawatan di rumah sakit. Biasanya selama 5-7 hari harus terus berbaring. “Setelah melewati hari-hari itu, proses penyembuhan akan dilanjutkan dengan memobilisasi bertahap.” Hari pertama, dudukkan anak 2 x 15 menit, lalu meningkat 2 x 30 menit di hari kedua, dan seterusnya. Baru kemudian belajar jalan.

PENCEGAHAN DEMAM TIFOID/TIFUS

* LINGKUNGAN HIDUP
  • Sediakan air minum yang memenuhi syarat. Misalnya, diambil dari tempat yang higienis, seperti sumur dan produk minuman yang terjamin. Jangan gunakan air yang sudah tercemar. Jangan lupa, masak air terlebih dulu hingga mendidih (100 derajat C).
  • Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Juga jangan pernah membuangnya secara sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan membawa bakteri Salmonella typhi. Terutama ke makanan.
  • Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.
* DIRI SENDIRI
  • Lakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga. Vaksinasi dapat mencegah kuman masuk dan berkembang biak. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.
  • Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier). Pengawasan diperlukan agar dia tidak lengah terhadap kuman yang dibawanya. Sebab jika dia lengah, sewaktu-waktu penyakitnya akan kambuh.
MAKANAN YANG DIANJURKAN
  • Boleh semua jenis makanan, yang penting lunak.
  • Makanan harus mudah dicerna, mengandung cukup cairan, kalori, serat, tinggi protein dan vitamin, tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.
  • Makanan saring/lunak diberikan selama istirahat.
  • Jika kembali kontrol ke dokter dan disarankan makan nasi yang lebih keras, harus dijalankan.
  • Untuk kembali ke makanan “normal”, lakukan secara bertahap bersamaan dengan mobilisasi. Misalnya hari pertama makanan lunak, hari ke-2 makanan lunak, hari ke-3 makanan biasa, dan seterusnya.

SEMOGA KITA DIBERI KESEHATAN DAN REZEKY YANG BERKAH OLEH ALLAH, AMIN...

No comments:

Post a Comment