5 October 2015

Review Buku Ngenest 3: Ngetawain Hidup A la Ernest

Beberapa cerita yang ditampilkan di awal sangat menarik, favorit saya adalah cerita ketika Ernest menemani istrinya -Teh Meira- melahirkan, cerita saat Teh Meira menyusui anak kedua (lucu tenan ki..!) dan perilaku Sky -anak pertama Ernest- berdoa di depan lukisan Yesus tapi pakai sajadah.

Yah..sebenarnya dari awal juga seperti itu, toh isinya memang menceritakan peristiwa pribadi yang dialami penulis. Tapi di awal, sarkasme yang ditulis Ernest tentang peristiwa yang dialaminya sangat lucu dan absurd, hingga membuat saya tertawa. Untungnya saya masih tersenyum kecil di akhir buku.

Yang cukup heart-warming dari buku ini, Ernest banyak bercerita tentang keluarganya di buku ini, mulai dari Sky, Snow, dan pernikahannya dengan Teh Meira. Tulisan yang paling gokil di buku ini sih menurut saya ketika dia bicarain Snow, ASI dan gimana pengelaman Ernest nyicipin ASI. Hahaha.

Dan yang gak sreg dengan buku ini adalah di cerita yang mengenai pernikahan dia sama istrinya, foto - fotonya itu lho yang gak nguatin...jadul banget...wajahnya kokoh banget...

Ernest tetaplah Ernest. Yang bisa menjadikan apa saja, menjadi bahan renungan sekaligus guyonan. Mulai dari ASI, ketidaksukaannya dipanggil Koh sampai toilet toilet jorok di negara nenek moyangnya.Yang bikin saya nyengir pas kejadian anaknya bilang Assalamualaikum waktu mau main ke luar rumah.Ernest yang bercerita dengan enteng bagaimana ayahnya suka memukulinya dengan sapu lidi.

Tapi sayangnya, beberapa cerita terakhir agak kurang menarik, mungkin karena ironi penulis terhadap kejadian yang diceritakan agak berkurang. Khususnya cerita tentang pernikahan mereka, yang akhirnya seperti membaca catatan harian pribadi.

Mngkin karena sudah habis bahan yang ingin dibaginya, juga yang ingin saya ketahui tak banyak lagi. Jadi, tiga bintang buat buku ke 3 Ernest Prakasa ini.

******
Ngenest 3: Ngetawain Hidup A la Ernest
by Ernest Prakasa

Dan ternyata rumahnya Nina emang mewah banget, sampe ke toiletnya. Bayangin aja, toiletnya itu luasnya sekitar 2×3 meter. Luas bangetlah untuk ukuran sebuah toilet. Lantainya pake marmer, plus dikasih karpet di tengah-tengah. Gile, kamar mandi aja pake karpet. Kamar tidur pake apa coba, ubin batu akik? Udah gitu, dindingnya dipakein walpaper. Kalo wallpaper buat komputer sih enak tinggal donlot gratis, kalo ini kan kudu beli mahal. Setembok penuh pula. Bukan cuma itu, kamar mandi ini juga ada AC-nya! Ngeliat segala kekerenan itu, gue cuma bisa bergumam dalam hati, “Sial, apa gue pindah kost ke sini aja ya?”
“Kencan Pertama Yang Luar Biasa”

Gue nggak nyangka kalo situasi di dalam ruang bersalin bakal rusuh begini. Asli, gue dicubit, digampar, dijambak, komplitlah. Pokoknya kayak rekap best of the best hukuman bokap ke gue selama enam tahun masa SD, dikompilasi dalam format zip berdurasi setengah jam. Dan yang gue amat sesalkan, kenapa di depan rumah sakit nggak ada yang jual helm dan tameng yang suka dipake polisi anti huru-hara. Padahal itu akan sangat membantu melindungi para suami yang berjuang menemani istri mereka.
“Drama Ruang Bersalin”

No comments:

Post a Comment